Rabu, 05 Juni 2019

Nuning. Sebuah cerita tentang wanita...

#Nuning

~~~

Sore itu, ku lihat Nuning duduk dengan pandangan kosong menghadap cermin besar seukuran orang dewasa di dalam kamarnya.

"Ning.. Kenapa diam saja dan melamun begitu, apa yang kau pikirkan? "

Nuning tetap tak bergeming. Hanya menghela napas dengan berat, seperti sedang menggendong segunung batu di punggungnya yg ringkih.

"Entahlah, Ndah.." bola matanya bergerak melihat pantulan dirinya sendiri di depan cermin. Wajahnya lebam di beberapa sisi, pipi kirinya bengkak dan sudut matanya memerah seperti ada gumpalan darah beku.

"Aku hanya berpikir bahwa aku ini apa, Ndah? Apakah aku cukup berharga? Aku sudah cukup bertahan selama berpuluh tahun ini"

Aku hanya tersenyum. Ini rasanya seperti de'javu. Aku seperti melihat diriku yang dulu, bertahun-tahun yang lalu.
Perlahan ku langkahkan kakiku menuju Nuning, ku pegang pundaknya dengan yakin.

"Lihatlah aku, Ning. Jangan menyerah akan hidupmu. Kamu wanita baik. Kamu berharga. Jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk orang yang bahkan tak pernah menyayangimu. Angkat kepalamu dan tunjukkan bahwa kamu bisa melangkah dengan kedua kakimu sendiri, Ning. Aku tahu perjuanganmu dari dulu, dan tidak seharusnya kamu berada di titik ini"

Nuning menatapku dengan pandangan sayu tanpa harapan. Bulir bening menghiasi kelopak matanya yg lebam membiru.

"Aku sangat lelah untuk saat ini, Ndah. Lelah sekali, bolehkan aku beristirahat sejenak?

"Tentu saja boleh, Ning. Marahlah saat kau ingin marah. Luapkanlah semua. Ucapkan semua yg tak pernah kau utarakan selama ini. Mereka berhak tahu apa yg terjadi tanpa hanya terus membabibutakan tekanan masalah padamu. Terbukalah sekarang, katakan terus terang. Jangan menutupi apapun! Tidak baik, Ning. Kau bisa gila! Sayangilah dirimu sendiri!"

"Aku sudah gila dari dulu, Ndah. Setiap memikirkan ini kepalaku seperti pecah hancur berkeping-keping. Bolehkah aku istirahat, Ndah? Bolehkan aku merasa bahkan Dia tak pernah hadir dan adil padaku?"

Diliriknya botol racun tikus di sudut kamar. Kemudian pandangannya kembali kosong menghadap cermin.

"Jangan bodoh untuk yg ke sekian kali nya, Ning! Ini hanya bagian kecil dari kasih sayang Allah untuk mendekatkanmu pada-Nya. Bangkitlah! Marilah pegang tanganku, kita bisa melalui ini bersama-sama. Tersenyumlah..
Perlihatkanlah bahwa kau tetap Nuning yg kuat dan penuh senyum seperti biasa"

Tiba-tiba Nuning menunduk di sela kakinya yg meringkuk. Ku lihat tubuhnya bergetar dengan hebat. Sesenggukan tanpa suara. Kemudian teriakan dan tangisan keluar dengan bebas seperti meledakkan semua yg terpendam dalam hati.

Ku biarkan Nuning melepaskan semua emosi dirinya. Ku tutup pintu kamarnya. Dia perlu waktu untuk menyendiri.

~~~

Tulisan macam apa ini, efek baca novel tadi malem. 😅😅
Kalo mood nanti di lanjut, lagi ga ada kerjaan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar