~~~
POV Nuning
Saat membereskan barang-barang lama di dalam lemari tua itu, aku menemukan sebuah kotak kusam berdebu. Tertera namaku di sudut depan kotak itu. Nuning. Di dalamnya ada sebuah buku, sepertinya buku diary. Ku baca acak halaman terakhir.
........................
Tersenyumlah, maka akan kau dapati hatimu lebih besar dan luas dari sebelumnya...
Jangan pikirkan betapa sulitnya kau tersenyum, tapi bayangkan bagaimana senyumanmu bisa memberi efek positif pada orang lain..
Tuhan tau apa yang terbaik, meski sering jalannya tak seperti yang kau inginkan.
Kau akan dewasa karena luka, dan akan belajar karenanya..
Untuk tidak lagi menaruh harap pada manusia, tidak lagi bersikap hilang akal sehat demi cinta yang salah..
Dari luka lama yang bahkan tak pernah benar-benar sembuh, kau akan semakin sadar bahwa semua yang menumbuhkan mimpi pada manusia hanya berakhir sia-sia..
Akhirnya kau sadar betapa melelahkannya berharap pada manusia, terus menerus menumpangkan harap dan berakhir ratap.
Kini, saatnya kau harus bangkit. Memulai semua dari awal. Menghapus memori pahit yang tertinggal, dengan mencoba menerima dan merelakan.
Kini bukankah kau jadi tahu bersikap lebih waras? Berani menghadapi semua dengan lapang dada. Tidak lagi terbujuk oleh rayuan cinta semu dan fana.
Kau dewasa karena luka. Kau akan lebih bersikap waras karena pengalaman yang pernah kau lewati, meski semua cerita itu tentang sakit hati...
.......................................
Tak tertera tanggal di lembar catatan itu. Entah itu kapan ku tulis. Aku lupa. Atau lebih tepatnya aku sengaja melupakannya. Bukankah lebih baik membuang semua kenangan buruk ke belakang kepalamu?
Membaca catatan ini membuat hatiku sangat sakit. Tapi anehnya tak ada air mata yg mengalir. Sakit tapi aku tidak bisa menangis.
~~~
Mood lagi ga bagus...tulisannya amburadul, alur dan plot ga jelas. Tau ah gelap...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar