Minggu, 07 Juli 2019

Jodoh yang Tak Berjodoh

Jodoh itu seperti kepingan puzzle, dia melengkapi setiap sisi. Jodoh itu bukan orang yg paling sempurna, melainkan dia yg bisa menutupi dan memaklumi setiap kekurangan kita. Karena kita tumbuh sebagai manusia biasa, bukan sebagai malaikat tanpa cela. Dari tiap cela itu kita bisa membuatnya sebagai ladang ibadah, dan kelebihannya sebagai anugerah.

Dari jodoh itu pulalah kita belajar jatuh cinta berkali-kali pada orang yg sama. Dia mungkin pernah membuatmu hilang akal dan marah, ataupun kecewa dan terluka, tapi saat melihatnya tertidur lelap dalam lelah, kau akan mengerti betapa berharganya wajah yg kau cintai bertahun-tahun itu.

Mungkin setelah pernikahan yg panjang dan lama, atau masalah yg datang bertubi-tubi, ada rasa ingin pergi. Entah karena bosan stag di tempat itu, atau karena lelah bersama, banyak sekali alasan yg tidak bisa dijabarkan satu persatu. Bukankah itu manusiawi? Karena tiap manusia punya kecenderungan untuk ingin selalu bahagia.

Banyak faktor mengapa pernikahan bisa kandas di tengah jalan. Ada yg bilang itu ujian, ada yg bilang emang sudah begitu jalannya. Tapi bagi sebagian orang, saat kita sudah memilih dia sebagai jodoh kita, baik buruknya, kurang lebih nya, kita wajib terima apa adanya. Itu sudah pilihan kita, kita harus bertanggung jawab penuh untuk itu. Karena saat kita memilih, tentu tak ada keinginan untuk berpisah. Tidak ada orang yg sudah menikah menyengajakan untuk mengakhiri yang sudah dibangun bertahun-tahun hanya untuk hancur begitu saja.

Saat masalah datang terlalu bertubi-tubi, tiap orang punya batas. Batas dimana dirinya bisa bertahan atas semua hal. Ada sebuah artikel tentang psikologi pernikahan, bahwa adalah hal yg klise kalau kita berusaha bertahan demi kebahagiaan salah satu pihak. Bertahan karena anak itu penting, karena anaklah yg paling dirugikan jika pernikahan benar-benar kandas, padahal mereka samasekali tidak tahu menahu, dan merekapun tidak meminta untuk lahir dalam keluarga yg akhirnya akan berpisah.

Untuk itulah, saat pernikahan benar-benar di ujung tanduk, pasangan yg akan berpisah harus bisa bekerja sama dengan baik dan benar secara kondusif untuk selalu menciptakan suasana yg membuat anak tidak merasa terabaikan. Dan itu butuh konsistensi. Meski bentuk konsistensi itu tak melulu harus dengan cara hidup bersama.

Tulisan ini universal, tidak tertuju pada siapapun.
Ini adalah salah satu bentuk diskusi, silakan jika merasa ada yg tidak cocok dan ingin menambahi..
Sebenarnya masih banyak poin-poin lain, tapi ga sempet, ini aja tulisannya acak...

*tulisan buru-buru, dibuat di sela ikomah dan adzan ashar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar