Definisi Bahagia
Dimulai dengan pertanyaan sederhana, sebenarnya apakah definisi bahagia?
Setiap orang mempunyai definisi bahagianya sendiri. Ada yg menilainya dari kecukupan materi, terlaksanakannya kewajiban, tuntasnya pekerjaan, lengkapnya keluarga, tercapainya impian, dsb.
Coba sejenak pejamkan mata, apa yg kau rasa dapat membuatmu bahagia?
Ada seorang ibu yg menjawab, dia bahagia saat melihat keluarganya bahagia.
Ada seorang remaja yg bergumam, dia bahagia saat masuk di sekolah unggulan.
Ada seorang ayah berkata, dia bahagia saat membahagiakan istri dan anak-anaknya, dsb.
Kebahagiaan adalah keadaan psikologis yang positif berupa kepuasan hidup yg timbul dari pemenuhan kebutuhan atau harapan, yang merupakan penyebab atau sarana untuk menikmati terhadap kehidupan yang dijalaninya. (Seligman, 2002)
Kebahagiaan itu bersifat dinamis, tergantung dari bagaimana hati kita memprosesnya.
Bahagia itu kita sendiri yg menciptakan.
Kita yang memilih kita akan merasakan bahagia atau tidak. Karena yg punya kontrol penuh terhadap perasaan kita adalah pikiran kita sendiri, bukan orang lain.
Kehidupan yang kita jalani tak mungkin tak pernah tak ada masalah. Hidup adalah peralihan dari masalah satu ke masalah yg lain. Setiap orang punya karakteristik sendiri dalam menyelesaikan masalah.
Ada yg selalu mengkambinghitamkan orang lain sebagai alasan atas apa yg terjadi, ada yg selalu menyalahkan dirinya sendiri, ada juga yg seolah bersikap tidak peduli padahal banyak yg menumpuk di hati.
Semua itu adalah bentuk perlindungan alam bawah sadar diri atas jiwa yg merasa tersakiti.
Untuk beberapa hal, kadang kita terlalu mendikte cara orang lain untuk berbahagia. Atau terlalu terburu-buru menyematkan kata "kasihan ya", "sedih banget hidupnya", "sayang banget kok gitu sih".
Atau yg lebih parah, menganggap bodoh keputusan orang lain hanya karena dia mengambil jalan berbeda dari yang kebanyakan orang pikirkan.
Padahal yg hidup mereka, cara mereka berbahagia juga yg tau hanya mereka. Selama mereka ga mengganggu orang banyak, kenapa pula harus kita ganggu dengan komentar kita?
Mungkin kita sendiri tidak sadar, komentar dan celetukan itu juga bentuk penghakiman halus pada mereka. Bentuk ke-soktau-an yg tidak kita sadari.
Setiap orang punya alasan atas setiap keputusan. Kebanyakan orang ga benar-benar tau alasan mereka, atau memang ga pengen tau. Kita tidak bisa secara sepihak memaksakan apa yg kita pikirkan hanya dari kacamata kita sendiri.
Apakah kau akan bertanggung jawab atas pemaksaan pemikiranmu saat itu ga berlangsung lancar pada kehidupannya di masa depan padahal mereka yg merasakan dan menjalaninya?
Hanya saat kita bahagia karena uda nikah, bukan berarti kita bisa menilai mereka yg belum menikah hidupnya menderita.
Hanya saat kita bangga akan pencapaian akademis di dunia perkuliahan, bukan berarti kita bisa menganggap orang lain yg tidak menyelesaikan pendidikannya adalah orang yg gagal.
Pilihan atas setiap kejadian dan keputusan selalu punya alasan tersendiri dan pasti sudah melalui pemikiran panjang dan proses pengambilan keputusan yg relevan untuk berujung pada kebahagiaan.
Cara tersederhana untuk meredakan masalah mereka adalah buat mereka tersenyum atau lontarkan kata-kata penyemangat yg menyengat. Membahagiakan orang lain pasti juga akan membuatmu bahagia.
Merasa bahagia adalah proses paling sederhana untuk benar-benar bahagia. Kalo perlu paksa. Jangan terlalu terlena dalam kemanjaan perasaan sedihmu. Pites kuat-kuat rasa sedih itu biar jadi butiran debu.
Ngomong mah gampang, makanya ayok lakukan..
Jangan lupa bahagia.😊

Tidak ada komentar:
Posting Komentar