Umur tidak selalu memastikan tingkat kedewasaan. Bahkan kita bisa belajar pada seorang bayi, yg tak kenal lelah untuk selalu berusaha bangkit saat terjatuh dalam belajar berjalan.
Belajar itu ga selalu harus lewat membaca teori. Bisa juga lewat merasakan dan mendengarkan. Bisa juga dengan melebarkan hati dan meluaskan pandangan. Asal jangan tiba-tiba melebarkan tangan dear, rawan bau kelek.. Ngahaha...
Saat kita lebih banyak menggunakan telinga daripada mulut, saat itu kita akan belajar memahami. Mungkin itu sebagian alasan mengapa Allah menciptakan dua telinga, sementara mulut hanya satu. Agar kita lebih banyak mendengarkan, bukan hanya pintar membicarakan baik-buruknya orang lain.
Tapi mengaktifkan indera pendengaran dengan maksimal, berbanding lurus dengan berkembangnya kepekaan hati. Intinya kita akan lebih sensitif. Maka inilah saatnya hati yg peka berkorelasi dengan logika yg sehat, sehingga senantiasa menjadikan pikiran yg positif.
Saat Hari Raya seperti sekarang ini, nuansa paling kental adalah silaturahim. Berkunjung dan makan (makan ini keadaan paling menyenangkan :D) dari rumah ke rumah. Yang mana juga terjadi basa basi yg kadang tanpa sadar itu rasanya garing menyebalkan gitu.
Seperti,
Eh, gemukan ya sekarang..
Mana nih gandengannya, kok sendirian aja..
Kapan nikah? Kaya uda lama barengnya, cocok langsung cus aja atuh..
Brapa lama nikah? Belum hamil juga nih..
Eh, anaknya yg ini iteman ya, beda ama yg atu nya..
Duh anaknya uda banyak aja, perasaan baru kemaren nikah..
Dan sederet bla..bla..bla lainnya...
Intinya satu dear... Jangan Baper!
Bawa kalem aja. Stay cool. Meski kadang celetukan mereka itu bikin greget rasa pengen ngunyah orang, husnudzon aja lah bahwa mereka sebenernya hanya bingung mencari bahan omongan. Yang gampang terlihat aja yg spontan mereka tanyakan. Mereka ga bener-bener ingin begitu ikut campur dengan kehidupan kita.
Ga mungkin juga kan mereka nanya hal absurd macam,
Berapa derajat celcius suhu cuaca skrg ya, sepertinya ini efek pemanasan global dimana lapisan ozon sudah mulai mencairkan lapisan es di kutub..
Atau
Berdasar pemahaman ekonomi secara persuasif, pertukaran uang lebaran untuk angpao itu ternyata banyak menimbulkan perspektif baru, apa itu salah satu dari riba? ..
Kita lagi silaturahim dear, bukan lagi rapat plano!
Yakin aja bahwa mereka bertanya bukan niat nyinyirin hidup kita. Untuk meminimalisir rasa sakit hati, ada baiknya kita kasi filter di telinga, bahwa segala ucapan yg rasanya menyebalkan itu cukup kita biarkan sebagai angin lalu saja, jangan biarkan mengendap di hati. Perih dear.
Atau mulai ganti pertanyaan basa-basi macam itu dengan,
Eh, gemukan ya sekarang..
==> Alhamdulillah, lebih bahagia dan makmur ya sekarang..
Mana nih gandengannya, kok sendirian aja..
==> Sibuk apa sekarang?
Kapan nikah? Kaya uda lama barengnya, cocok langsung cus aja atuh..
==> Alhamdulillah langgeng ya, ada kesibukan apa skrg?
Eh, anaknya yg ini iteman ya, beda ama yg atu nya..
==> Alhamdulillah, anak-anaknya sehat semua..
Dan sederet bla..bla..bla.. lainnya, bisa dicoba ngarang sendiri.
Nikmati aja nuansa silaturahimnya, bertemu sanak saudara, saling bertukar kabar dan berita baik. Saling mengenal wajah-wajah kerabat jauh dan dekat.
Ada kalanya mungkin kita sendiri yg bicaranya ngawur, daritadi ngomong ngasi berbagai macam petuah padahal diri sendiri belum tentu bener juga ga baik kan dear? Sumbing... Eh sombong itu namanya...
Maka mari kita mulai introspeksi diri dan lebih menjaga cara bicara kita. Mulai berbasa-basi dengan cara yang lebih ahsan. Mungkin bagi beberapa orang itu hal remeh dan receh. But, you should be know and aware about your mouth. Karena apa yang keluar dari mulutmu menunjukkan kualitas dirimu.
Mungkin setelah membaca ini, kamu...ya...kamu berpikir bahwa, ih sotoy banget ini orang, kaya diri sendiri bener aja..
Saya pun sedang belajar, dan inipun berfungsi sebagai reminder untuk diri sendiri. Maka jangan lihat dari siapa yg bicara, tapi apa isi yang mereka bicarakan, karena orang bijak selalu bisa belajar dari berbagai hal.
#Faa
Minggu, 09 Juni 2019
Rabu, 05 Juni 2019
Luka
Ada kalanya kita perlu luka untuk mengajarkan arti tegar,
Perlu derita untuk mengerti apa itu makna hidup,
Perlu dihina untuk belajar menjadi lebih kuat,
Perlu hati yang hancur untuk kemudian bangkit kembali,
Perlu Allah sebagai tempat kita kembali untuk menjadikan semuanya indah pada waktunya.
Dan perlu galau pagi-pagi untuk menuliskan ini semua 😄
Ada masa dimana kita selalu menyalahkan keadaan,
Ada masa saat kita selalu menggunakan kata 'seandainya'
Ah mau bagaimanapun semua sudah terjadi.
Di masa lampau itulah pilihanmu, bertanggungjawablah atas pilihan itu. 😊
Dan yakinlah, semua adalah proses untuk membaikkan pribadi masing-masing. Sakit memang. Tapi nikmati saja semua prosesnya. Allah, pikiran positif, dan waktu akan membantu melewati semua.
Karena kau akan jadi sekuat apa yg ada kau percaya akan dirimu.
Jangan pernah berhenti bersyukur, yakinlah Allah Maha Baik. 💕💕💕
Perlu derita untuk mengerti apa itu makna hidup,
Perlu dihina untuk belajar menjadi lebih kuat,
Perlu hati yang hancur untuk kemudian bangkit kembali,
Perlu Allah sebagai tempat kita kembali untuk menjadikan semuanya indah pada waktunya.
Dan perlu galau pagi-pagi untuk menuliskan ini semua 😄
Ada masa dimana kita selalu menyalahkan keadaan,
Ada masa saat kita selalu menggunakan kata 'seandainya'
Ah mau bagaimanapun semua sudah terjadi.
Di masa lampau itulah pilihanmu, bertanggungjawablah atas pilihan itu. 😊
Dan yakinlah, semua adalah proses untuk membaikkan pribadi masing-masing. Sakit memang. Tapi nikmati saja semua prosesnya. Allah, pikiran positif, dan waktu akan membantu melewati semua.
Karena kau akan jadi sekuat apa yg ada kau percaya akan dirimu.
Jangan pernah berhenti bersyukur, yakinlah Allah Maha Baik. 💕💕💕
Nuning. Sebuah cerita tentang wanita... (4)
~~~
POV Nuning
Saat membereskan barang-barang lama di dalam lemari tua itu, aku menemukan sebuah kotak kusam berdebu. Tertera namaku di sudut depan kotak itu. Nuning. Di dalamnya ada sebuah buku, sepertinya buku diary. Ku baca acak halaman terakhir.
........................
Tersenyumlah, maka akan kau dapati hatimu lebih besar dan luas dari sebelumnya...
Jangan pikirkan betapa sulitnya kau tersenyum, tapi bayangkan bagaimana senyumanmu bisa memberi efek positif pada orang lain..
Tuhan tau apa yang terbaik, meski sering jalannya tak seperti yang kau inginkan.
Kau akan dewasa karena luka, dan akan belajar karenanya..
Untuk tidak lagi menaruh harap pada manusia, tidak lagi bersikap hilang akal sehat demi cinta yang salah..
Dari luka lama yang bahkan tak pernah benar-benar sembuh, kau akan semakin sadar bahwa semua yang menumbuhkan mimpi pada manusia hanya berakhir sia-sia..
Akhirnya kau sadar betapa melelahkannya berharap pada manusia, terus menerus menumpangkan harap dan berakhir ratap.
Kini, saatnya kau harus bangkit. Memulai semua dari awal. Menghapus memori pahit yang tertinggal, dengan mencoba menerima dan merelakan.
Kini bukankah kau jadi tahu bersikap lebih waras? Berani menghadapi semua dengan lapang dada. Tidak lagi terbujuk oleh rayuan cinta semu dan fana.
Kau dewasa karena luka. Kau akan lebih bersikap waras karena pengalaman yang pernah kau lewati, meski semua cerita itu tentang sakit hati...
.......................................
Tak tertera tanggal di lembar catatan itu. Entah itu kapan ku tulis. Aku lupa. Atau lebih tepatnya aku sengaja melupakannya. Bukankah lebih baik membuang semua kenangan buruk ke belakang kepalamu?
Membaca catatan ini membuat hatiku sangat sakit. Tapi anehnya tak ada air mata yg mengalir. Sakit tapi aku tidak bisa menangis.
~~~
Mood lagi ga bagus...tulisannya amburadul, alur dan plot ga jelas. Tau ah gelap...
POV Nuning
Saat membereskan barang-barang lama di dalam lemari tua itu, aku menemukan sebuah kotak kusam berdebu. Tertera namaku di sudut depan kotak itu. Nuning. Di dalamnya ada sebuah buku, sepertinya buku diary. Ku baca acak halaman terakhir.
........................
Tersenyumlah, maka akan kau dapati hatimu lebih besar dan luas dari sebelumnya...
Jangan pikirkan betapa sulitnya kau tersenyum, tapi bayangkan bagaimana senyumanmu bisa memberi efek positif pada orang lain..
Tuhan tau apa yang terbaik, meski sering jalannya tak seperti yang kau inginkan.
Kau akan dewasa karena luka, dan akan belajar karenanya..
Untuk tidak lagi menaruh harap pada manusia, tidak lagi bersikap hilang akal sehat demi cinta yang salah..
Dari luka lama yang bahkan tak pernah benar-benar sembuh, kau akan semakin sadar bahwa semua yang menumbuhkan mimpi pada manusia hanya berakhir sia-sia..
Akhirnya kau sadar betapa melelahkannya berharap pada manusia, terus menerus menumpangkan harap dan berakhir ratap.
Kini, saatnya kau harus bangkit. Memulai semua dari awal. Menghapus memori pahit yang tertinggal, dengan mencoba menerima dan merelakan.
Kini bukankah kau jadi tahu bersikap lebih waras? Berani menghadapi semua dengan lapang dada. Tidak lagi terbujuk oleh rayuan cinta semu dan fana.
Kau dewasa karena luka. Kau akan lebih bersikap waras karena pengalaman yang pernah kau lewati, meski semua cerita itu tentang sakit hati...
.......................................
Tak tertera tanggal di lembar catatan itu. Entah itu kapan ku tulis. Aku lupa. Atau lebih tepatnya aku sengaja melupakannya. Bukankah lebih baik membuang semua kenangan buruk ke belakang kepalamu?
Membaca catatan ini membuat hatiku sangat sakit. Tapi anehnya tak ada air mata yg mengalir. Sakit tapi aku tidak bisa menangis.
~~~
Mood lagi ga bagus...tulisannya amburadul, alur dan plot ga jelas. Tau ah gelap...
Nuning. Sebuah cerita tentang wanita... (3)
#Nuning
~~~
POV. Nuning
Flasbcack on
Aku memeluk erat kedua lututku yang bergetar. Lantai yang ku duduki terasa senyap dalam kedinginan. Di luar terasa sunyi, hanya suara dedaunan yang diterpa angin tengah malam.
Ku pandangi seorang laki-laki yang tertidur pulas di atas tempat tidur. Wajah yang selama bertahun-tahun selalu ada dalam hati dan kepalaku. Selalu wajah hangatnya yang ku simpan dalam memoriku. Meski tak jarang wajah itu penuh amarah seperti beberapa menit yang lalu.
Ku sentuh beberapa sudut tubuhku yang terasa nyeri akibat amarahnya yg tak terbendung. Sakit. Tapi lebih sakit harga diriku. Seakan remuk hati dan perasaanku. Tapi dia tetap lelaki yg telah ku pilih.
Tanpa suara aku mendekat ke arahnya. Ada ketakutan dia akan bangun tapi aku tak peduli. Ku pandangi wajahnya yg seakan tanpa beban. Bulir-bulir bening menghiasi pelupuk mataku satu-satu. Mengapa ini terjadi pada kita, Tuhan. Dia adalah orang baik. Aku menyayanginya sepenuh hatiku. Seluruh jiwa dan ragaku ku haturkan padanya tanpa kurang suatu apapun. Aku selalu berusaha menjadi apapun yang dia mau. Aku berusaha sekuat tenagaku, Tuhan.. Apa dia tidak mengerti?
Bahuku berguncang, tangisan tanpa suara itu semakin hebat. Hendak ku sentuh wajahnya tapi ku urungkan.
"Kak, maafkan aku. Sekarang aku masih kuat, Kak. Aku masih punya sedikit kekuatan untuk tetap bersamamu. Tapi aku takut, takut suatu saat nanti kekuatanku benar-benar habis tak bersisa. Jika saat itu tiba aku akan pergi dan tak mampu bahkan untuk sekedar menoleh padamu, Kak. Aku takut saat itu akan terjadi. Aku takut... "
Kembali ku peluk kedua lututku, sungguh keadaan yang menyedihkan.
Hatiku gerimis malam ini. Hanya Tuhan yang tahu apa yang aku rasakan. Semoga semua sakit ini adalah bagian dari penggugur dosa-dosaku, Tuhan. Harapanku hanya satu, wajah yang ku sayangi itu berubah selalu lembut padaku.
Apakah permintaan ku terlalu berlebihan, Tuhan?
Flasback off
Ku buka kedua mata dengan gelisah. Mimpi itu datang lagi. Datang lagi setelah ku kubur dalam-dalam.
~~~
Jadi syedih setelah nulis ini 😢
Lagi hobi nulis hal yg menyedihkan, bagian bahagianya mana ya? Wkwkwkw, moodnya lagi kesana... Ntar ada mood baik lagi lanjut nulis...
~~~
POV. Nuning
Flasbcack on
Aku memeluk erat kedua lututku yang bergetar. Lantai yang ku duduki terasa senyap dalam kedinginan. Di luar terasa sunyi, hanya suara dedaunan yang diterpa angin tengah malam.
Ku pandangi seorang laki-laki yang tertidur pulas di atas tempat tidur. Wajah yang selama bertahun-tahun selalu ada dalam hati dan kepalaku. Selalu wajah hangatnya yang ku simpan dalam memoriku. Meski tak jarang wajah itu penuh amarah seperti beberapa menit yang lalu.
Ku sentuh beberapa sudut tubuhku yang terasa nyeri akibat amarahnya yg tak terbendung. Sakit. Tapi lebih sakit harga diriku. Seakan remuk hati dan perasaanku. Tapi dia tetap lelaki yg telah ku pilih.
Tanpa suara aku mendekat ke arahnya. Ada ketakutan dia akan bangun tapi aku tak peduli. Ku pandangi wajahnya yg seakan tanpa beban. Bulir-bulir bening menghiasi pelupuk mataku satu-satu. Mengapa ini terjadi pada kita, Tuhan. Dia adalah orang baik. Aku menyayanginya sepenuh hatiku. Seluruh jiwa dan ragaku ku haturkan padanya tanpa kurang suatu apapun. Aku selalu berusaha menjadi apapun yang dia mau. Aku berusaha sekuat tenagaku, Tuhan.. Apa dia tidak mengerti?
Bahuku berguncang, tangisan tanpa suara itu semakin hebat. Hendak ku sentuh wajahnya tapi ku urungkan.
"Kak, maafkan aku. Sekarang aku masih kuat, Kak. Aku masih punya sedikit kekuatan untuk tetap bersamamu. Tapi aku takut, takut suatu saat nanti kekuatanku benar-benar habis tak bersisa. Jika saat itu tiba aku akan pergi dan tak mampu bahkan untuk sekedar menoleh padamu, Kak. Aku takut saat itu akan terjadi. Aku takut... "
Kembali ku peluk kedua lututku, sungguh keadaan yang menyedihkan.
Hatiku gerimis malam ini. Hanya Tuhan yang tahu apa yang aku rasakan. Semoga semua sakit ini adalah bagian dari penggugur dosa-dosaku, Tuhan. Harapanku hanya satu, wajah yang ku sayangi itu berubah selalu lembut padaku.
Apakah permintaan ku terlalu berlebihan, Tuhan?
Flasback off
Ku buka kedua mata dengan gelisah. Mimpi itu datang lagi. Datang lagi setelah ku kubur dalam-dalam.
~~~
Jadi syedih setelah nulis ini 😢
Lagi hobi nulis hal yg menyedihkan, bagian bahagianya mana ya? Wkwkwkw, moodnya lagi kesana... Ntar ada mood baik lagi lanjut nulis...
Nuning. Sebuah cerita tentang wanita... (2)
#Nuning
~~~
POV. Nuning
Entah sejak kapan kaki dan tanganku berubah sedingin es. Kakiku gemetaran dibuatnya. Keadaan di sekitarku seakan berubah cuaca seperti di kutub padahal di luar ruangan sana matahari bersinar dengan terangnya.
Ku rapatkan kedua kaki dan tanganku agar terasa lebih hangat. Rasanya tetap sama. Dingin.
Ku pejamkan mataku. Keringat dingin mengalir di sela pelipis. Napasku mulai satu-satu. Tuhan, ada apa denganku?
"Ning.. "
"Nuning?"
Siapa itu?
"Nuning apa kau baik-baik saja?"
Ku beranikan diriku membuka mata. Aku kembali ke sebuah ruangan dengan dinding berwarna hijau menenangkan. Ku lihat Joko teman sekerjaku sedang melihat dengan wajah penuh tanda tanya.
"Ah sepertinya aku kurang enak badan, Ko. Maaf, apa yang terjadi barusan?"
"Biasa lah pak Bos lagi marah-marah. Kalo aku sih masuk telinga kiri keluar telinga kanan, Ning... Hahaha.. Mmm kamu terlihat pucat, Ning. Istirahatlah kalo sakit"
"Terima kasih, Ko. Sepertinya aku sudah baik-baik saja"
Ku pijat pelipisku pelan-pelan. Ini sudah yg ke sekian kali nya terjadi. Awal mulanya ku pikir mungkin efek darah rendah, tapi ini berkelanjutan dan selalu kebetulan saat sedang ada laki-laki yg marah-marah padahal bukan tertuju padaku. Entah siapapun itu.
Tuhan, ada apa denganku?
~~~
Mood lagi bagus setelah melihat langit cerah hari ini... Lanjut tar lagi nulisnya, titip sini dulu.. 😊
~~~
POV. Nuning
Entah sejak kapan kaki dan tanganku berubah sedingin es. Kakiku gemetaran dibuatnya. Keadaan di sekitarku seakan berubah cuaca seperti di kutub padahal di luar ruangan sana matahari bersinar dengan terangnya.
Ku rapatkan kedua kaki dan tanganku agar terasa lebih hangat. Rasanya tetap sama. Dingin.
Ku pejamkan mataku. Keringat dingin mengalir di sela pelipis. Napasku mulai satu-satu. Tuhan, ada apa denganku?
"Ning.. "
"Nuning?"
Siapa itu?
"Nuning apa kau baik-baik saja?"
Ku beranikan diriku membuka mata. Aku kembali ke sebuah ruangan dengan dinding berwarna hijau menenangkan. Ku lihat Joko teman sekerjaku sedang melihat dengan wajah penuh tanda tanya.
"Ah sepertinya aku kurang enak badan, Ko. Maaf, apa yang terjadi barusan?"
"Biasa lah pak Bos lagi marah-marah. Kalo aku sih masuk telinga kiri keluar telinga kanan, Ning... Hahaha.. Mmm kamu terlihat pucat, Ning. Istirahatlah kalo sakit"
"Terima kasih, Ko. Sepertinya aku sudah baik-baik saja"
Ku pijat pelipisku pelan-pelan. Ini sudah yg ke sekian kali nya terjadi. Awal mulanya ku pikir mungkin efek darah rendah, tapi ini berkelanjutan dan selalu kebetulan saat sedang ada laki-laki yg marah-marah padahal bukan tertuju padaku. Entah siapapun itu.
Tuhan, ada apa denganku?
~~~
Mood lagi bagus setelah melihat langit cerah hari ini... Lanjut tar lagi nulisnya, titip sini dulu.. 😊
Nuning. Sebuah cerita tentang wanita...
#Nuning
~~~
Sore itu, ku lihat Nuning duduk dengan pandangan kosong menghadap cermin besar seukuran orang dewasa di dalam kamarnya.
"Ning.. Kenapa diam saja dan melamun begitu, apa yang kau pikirkan? "
Nuning tetap tak bergeming. Hanya menghela napas dengan berat, seperti sedang menggendong segunung batu di punggungnya yg ringkih.
"Entahlah, Ndah.." bola matanya bergerak melihat pantulan dirinya sendiri di depan cermin. Wajahnya lebam di beberapa sisi, pipi kirinya bengkak dan sudut matanya memerah seperti ada gumpalan darah beku.
"Aku hanya berpikir bahwa aku ini apa, Ndah? Apakah aku cukup berharga? Aku sudah cukup bertahan selama berpuluh tahun ini"
Aku hanya tersenyum. Ini rasanya seperti de'javu. Aku seperti melihat diriku yang dulu, bertahun-tahun yang lalu.
Perlahan ku langkahkan kakiku menuju Nuning, ku pegang pundaknya dengan yakin.
"Lihatlah aku, Ning. Jangan menyerah akan hidupmu. Kamu wanita baik. Kamu berharga. Jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk orang yang bahkan tak pernah menyayangimu. Angkat kepalamu dan tunjukkan bahwa kamu bisa melangkah dengan kedua kakimu sendiri, Ning. Aku tahu perjuanganmu dari dulu, dan tidak seharusnya kamu berada di titik ini"
Nuning menatapku dengan pandangan sayu tanpa harapan. Bulir bening menghiasi kelopak matanya yg lebam membiru.
"Aku sangat lelah untuk saat ini, Ndah. Lelah sekali, bolehkan aku beristirahat sejenak?
"Tentu saja boleh, Ning. Marahlah saat kau ingin marah. Luapkanlah semua. Ucapkan semua yg tak pernah kau utarakan selama ini. Mereka berhak tahu apa yg terjadi tanpa hanya terus membabibutakan tekanan masalah padamu. Terbukalah sekarang, katakan terus terang. Jangan menutupi apapun! Tidak baik, Ning. Kau bisa gila! Sayangilah dirimu sendiri!"
"Aku sudah gila dari dulu, Ndah. Setiap memikirkan ini kepalaku seperti pecah hancur berkeping-keping. Bolehkah aku istirahat, Ndah? Bolehkan aku merasa bahkan Dia tak pernah hadir dan adil padaku?"
Diliriknya botol racun tikus di sudut kamar. Kemudian pandangannya kembali kosong menghadap cermin.
"Jangan bodoh untuk yg ke sekian kali nya, Ning! Ini hanya bagian kecil dari kasih sayang Allah untuk mendekatkanmu pada-Nya. Bangkitlah! Marilah pegang tanganku, kita bisa melalui ini bersama-sama. Tersenyumlah..
Perlihatkanlah bahwa kau tetap Nuning yg kuat dan penuh senyum seperti biasa"
Tiba-tiba Nuning menunduk di sela kakinya yg meringkuk. Ku lihat tubuhnya bergetar dengan hebat. Sesenggukan tanpa suara. Kemudian teriakan dan tangisan keluar dengan bebas seperti meledakkan semua yg terpendam dalam hati.
Ku biarkan Nuning melepaskan semua emosi dirinya. Ku tutup pintu kamarnya. Dia perlu waktu untuk menyendiri.
~~~
Tulisan macam apa ini, efek baca novel tadi malem. 😅😅
Kalo mood nanti di lanjut, lagi ga ada kerjaan...
~~~
Sore itu, ku lihat Nuning duduk dengan pandangan kosong menghadap cermin besar seukuran orang dewasa di dalam kamarnya.
"Ning.. Kenapa diam saja dan melamun begitu, apa yang kau pikirkan? "
Nuning tetap tak bergeming. Hanya menghela napas dengan berat, seperti sedang menggendong segunung batu di punggungnya yg ringkih.
"Entahlah, Ndah.." bola matanya bergerak melihat pantulan dirinya sendiri di depan cermin. Wajahnya lebam di beberapa sisi, pipi kirinya bengkak dan sudut matanya memerah seperti ada gumpalan darah beku.
"Aku hanya berpikir bahwa aku ini apa, Ndah? Apakah aku cukup berharga? Aku sudah cukup bertahan selama berpuluh tahun ini"
Aku hanya tersenyum. Ini rasanya seperti de'javu. Aku seperti melihat diriku yang dulu, bertahun-tahun yang lalu.
Perlahan ku langkahkan kakiku menuju Nuning, ku pegang pundaknya dengan yakin.
"Lihatlah aku, Ning. Jangan menyerah akan hidupmu. Kamu wanita baik. Kamu berharga. Jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk orang yang bahkan tak pernah menyayangimu. Angkat kepalamu dan tunjukkan bahwa kamu bisa melangkah dengan kedua kakimu sendiri, Ning. Aku tahu perjuanganmu dari dulu, dan tidak seharusnya kamu berada di titik ini"
Nuning menatapku dengan pandangan sayu tanpa harapan. Bulir bening menghiasi kelopak matanya yg lebam membiru.
"Aku sangat lelah untuk saat ini, Ndah. Lelah sekali, bolehkan aku beristirahat sejenak?
"Tentu saja boleh, Ning. Marahlah saat kau ingin marah. Luapkanlah semua. Ucapkan semua yg tak pernah kau utarakan selama ini. Mereka berhak tahu apa yg terjadi tanpa hanya terus membabibutakan tekanan masalah padamu. Terbukalah sekarang, katakan terus terang. Jangan menutupi apapun! Tidak baik, Ning. Kau bisa gila! Sayangilah dirimu sendiri!"
"Aku sudah gila dari dulu, Ndah. Setiap memikirkan ini kepalaku seperti pecah hancur berkeping-keping. Bolehkah aku istirahat, Ndah? Bolehkan aku merasa bahkan Dia tak pernah hadir dan adil padaku?"
Diliriknya botol racun tikus di sudut kamar. Kemudian pandangannya kembali kosong menghadap cermin.
"Jangan bodoh untuk yg ke sekian kali nya, Ning! Ini hanya bagian kecil dari kasih sayang Allah untuk mendekatkanmu pada-Nya. Bangkitlah! Marilah pegang tanganku, kita bisa melalui ini bersama-sama. Tersenyumlah..
Perlihatkanlah bahwa kau tetap Nuning yg kuat dan penuh senyum seperti biasa"
Tiba-tiba Nuning menunduk di sela kakinya yg meringkuk. Ku lihat tubuhnya bergetar dengan hebat. Sesenggukan tanpa suara. Kemudian teriakan dan tangisan keluar dengan bebas seperti meledakkan semua yg terpendam dalam hati.
Ku biarkan Nuning melepaskan semua emosi dirinya. Ku tutup pintu kamarnya. Dia perlu waktu untuk menyendiri.
~~~
Tulisan macam apa ini, efek baca novel tadi malem. 😅😅
Kalo mood nanti di lanjut, lagi ga ada kerjaan...
Langganan:
Komentar (Atom)





