Senin, 08 Juli 2019

Tipe Kepribadian dalam Psikologi

4 TIPE KEPRIBADIAN DALAM DUNIA PSIKOLOGI

Dalam dunia psikologi, dikenal yang namanya 4 tipe kepribadian: Sanguinis, Melankolis, Koleris & Plegmatis, atau ada juga yang langsung mengkategorikannya sesuai dengan sifat dominan masing-masing tipe, yaitu: Sanguinis Populer, Melankolis Sempurna, Koleris Kuat & Plegmatis Damai. Nah terus saya & anda termasuk yg mana?

KOLERIS pada umumnya mempunyai:
KEKUATAN:
* Senang memimpin, membuat keputusan, dinamis dan aktif.
* Sangat memerlukan perubahan dan harus mengoreksi kesalahan.
* Berkemauan keras dan pasti untuk mencapai sasaran/ target.
* Bebas dan mandiri.
* Berani menghadapi tantangan dan masalah.
* "Hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini".
* Mencari pemecahan praktis dan bergerak cepat.
* Mendelegasikan pekerjaan dan Orientasi berfokus pada produktivitas.
* Membuat dan menentukan tujuan.
* Terdorong oleh tantangan dan tantangan.
* Tidak begitu perlu teman.
* Mau memimpin dan mengorganisasi.
* Biasanya benar dan punya visi ke depan.
* Unggul dalam keadaan darurat.

KELEMAHAN:
* Tidak sabar dan cepat marah (kasar dan tidak taktis).
* Senang memerintah.
* Terlalu bergairah dan tidak/susah untuk santai.
* Menyukai kontroversi dan pertengkaran.
* Terlalu kaku dan kuat/ keras.
* Tidak menyukai air mata dan emosi tidak simpatik.
* Tidak suka yang sepele dan bertele-tele / terlalu rinci.
* Sering membuat keputusan tergesa-gesa.
* Memanipulasi dan menuntut orang lain, cenderung memperalat orang lain.
* Menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan.
* Workaholics (kerja adalah "tuhan"-nya).
* Amat sulit mengaku salah dan meminta maaf.
* Mungkin selalu benar tetapi tidak populer.

Kalau MELANKOLIS:
KEKUATAN:
* Analitis, mendalam, dan penuh pikiran.
* Serius dan bertujuan, serta berorientasi jadwal.
* Artistik, musikal dan kreatif (filsafat & puitis).
* Sensitif.
* Mau mengorbankan diri dan idealis.
* Standar tinggi dan perfeksionis.
* Senang perincian/memerinci, tekun, serba tertib dan teratur (rapi).
* Hemat.
* Melihat masalah dan mencari solusi pemecahan kreatif (sering terlalu kreatif).
* Kalau sudah mulai, dituntaskan.
* Berteman dengan hati-hati.
* Puas di belakang layar, menghindari perhatian.
* Mau mendengar keluhan, setia dan mengabdi.
* Sangat memperhatikan orang lain.

KELEMAHAN:
* Cenderung melihat masalah dari sisi negatif (murung dan tertekan).
* Mengingat yang negatif & pendendam.
* Mudah merasa bersalah dan memiliki Citra diri rendah.
* Lebih menekankan pada cara daripada tercapainya tujuan.
* Tertekan pada situasi yang tidak sempurna dan berubah-ubah.
* Melewatkan banyak waktu untuk menganalisa dan merencanakan (if..if..if..)
* Standar yang terlalu tinggi sehingga sulit disenangkan.
* Hidup berdasarkan definisi.
* Sulit bersosialisasi.
* Tukang kritik, tetapi sensitif terhadap kritik/ yg menentang dirinya.
* Sulit mengungkapkan perasaan (cenderung menahan kasih sayang).
* Rasa curiga yg besar (skeptis terhadap pujian).
* Memerlukan persetujuan.

Kalau PLEGMATIS:
KEKUATAN:
* Mudah bergaul, santai, tenang dan teguh.
* Sabar, seimbang, dan pendengar yang baik.
* Tidak banyak bicara, tetapi cenderung bijaksana.
* Simpatik dan baik hati (sering menyembunyikan emosi).
* Kuat di bidang administrasi, dan cenderung ingin segalanya terorganisasi.
* Penengah masalah yg baik.
* Cenderung berusaha menemukan cara termudah.
* Baik di bawah tekanan.
* Menyenangkan dan tidak suka menyinggung perasaan.
* Rasa humor yg tajam.
* Senang melihat dan mengawasi.
* Berbelaskasihan dan peduli.
* Mudah diajak rukun dan damai.

KELEMAHAN:
* Kurang antusias, terutama terhadap perubahan/ kegiatan baru.
* Takut dan khawatir.
* Menghindari konflik dan tanggung jawab.
* Keras kepala, sulit kompromi (karena merasa benar).
* Terlalu pemalu dan pendiam.
* Humor kering dan mengejek (Sarkatis).
* Kurang berorientasi pada tujuan.
* Sulit bergerak dan kurang memotivasi diri.
* Lebih suka sebagai penonton daripada terlibat.
* Tidak senang didesak-desak.
* Menunda-nunda / menggantungkan masalah.

Kalau SANGUINIS:
KEKUATAN:
* Suka bicara.
* Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstratif.
* Antusias dan ekspresif.
* Ceria dan penuh rasa ingin tahu.
* Hidup di masa sekarang.
* Mudah berubah (banyak kegiatan / keinginan).
* Berhati tulus dan kekanak-kanakan.
* Senang kumpul dan berkumpul (untuk bertemu dan bicara).
* Umumnya hebat di permukaan.
* Mudah berteman dan menyukai orang lain.
* Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian.
* Menyenangkan dan dicemburui orang lain.
* Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam).
* Mengambil inisiatif/ menghindar dari hal-hal atau keadaan yang membosankan.
* Menyukai hal-hal yang spontan.

KELEMAHAN:
* Suara dan tertawa yang keras (terlalu keras).
* Membesar-besarkan suatu hal / kejadian.
* Susah untuk diam.
* Mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain (suka nge-Gank).
* Sering minta persetujuan, termasuk hal-hal yang sepele.
* RKP! (Rentang Konsentrasi Pendek)
* Dalam bekerja lebih suka bicara dan melupakan kewajiban (awalnya saja antusias)
* Mudah berubah-ubah.
* Susah datang tepat waktu jam kantor.
* Prioritas kegiatan kacau.
* Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan tuntas.
* Sering mengambil permasalahan orang lain, menjadi seolah-olah masalahnya.
* Egoistis.
* Sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yg sama.
* Konsentrasi ke "How to spend money" daripada "How to earn/save money".

Minggu, 07 Juli 2019

Definisi Bahagia

Definisi Bahagia

Dimulai dengan pertanyaan sederhana, sebenarnya apakah definisi bahagia?
Setiap orang mempunyai definisi bahagianya sendiri. Ada yg menilainya dari kecukupan materi, terlaksanakannya kewajiban, tuntasnya pekerjaan, lengkapnya keluarga, tercapainya impian, dsb.

Coba sejenak pejamkan mata, apa yg kau rasa dapat membuatmu bahagia?

Ada seorang ibu yg menjawab, dia bahagia saat melihat keluarganya bahagia.
Ada seorang remaja yg bergumam, dia bahagia saat masuk di sekolah unggulan.
Ada seorang ayah berkata, dia bahagia saat membahagiakan istri dan anak-anaknya, dsb.

Kebahagiaan adalah keadaan psikologis yang positif berupa kepuasan hidup yg timbul dari pemenuhan kebutuhan atau harapan, yang merupakan penyebab atau sarana untuk menikmati terhadap kehidupan yang dijalaninya. (Seligman, 2002)

Kebahagiaan itu bersifat dinamis, tergantung dari bagaimana hati kita memprosesnya.
Bahagia itu kita sendiri yg menciptakan.
Kita yang memilih kita akan merasakan bahagia atau tidak. Karena yg punya kontrol penuh terhadap perasaan kita adalah pikiran kita sendiri, bukan orang lain.

Kehidupan yang kita jalani tak mungkin tak pernah tak ada masalah. Hidup adalah peralihan dari masalah satu ke masalah yg lain. Setiap orang punya karakteristik sendiri dalam menyelesaikan masalah.
Ada yg selalu mengkambinghitamkan orang lain sebagai alasan atas apa yg terjadi, ada yg selalu menyalahkan dirinya sendiri, ada juga yg seolah bersikap tidak peduli padahal banyak yg menumpuk di hati.
Semua itu adalah bentuk perlindungan alam bawah sadar diri atas jiwa yg merasa tersakiti.

Untuk beberapa hal, kadang kita terlalu mendikte cara orang lain untuk berbahagia. Atau terlalu terburu-buru menyematkan kata "kasihan ya", "sedih banget hidupnya", "sayang banget kok gitu sih".
Atau yg lebih parah, menganggap bodoh keputusan orang lain hanya karena dia mengambil jalan berbeda dari yang kebanyakan orang pikirkan.

Padahal yg hidup mereka, cara mereka berbahagia juga yg tau hanya mereka. Selama mereka ga mengganggu orang banyak, kenapa pula harus kita ganggu dengan komentar kita?
Mungkin kita sendiri tidak sadar, komentar dan celetukan itu juga bentuk penghakiman halus pada mereka. Bentuk ke-soktau-an yg tidak kita sadari.

Setiap orang punya alasan atas setiap keputusan. Kebanyakan orang ga benar-benar tau alasan mereka, atau memang ga pengen tau. Kita tidak bisa secara sepihak memaksakan apa yg kita pikirkan hanya dari kacamata kita sendiri.
Apakah kau akan bertanggung jawab atas pemaksaan pemikiranmu saat itu ga berlangsung lancar pada kehidupannya di masa depan padahal mereka yg merasakan dan menjalaninya?

Hanya saat kita bahagia karena uda nikah, bukan berarti kita bisa menilai mereka yg belum menikah hidupnya menderita.
Hanya saat kita bangga akan pencapaian akademis di dunia perkuliahan, bukan berarti kita bisa menganggap orang lain yg tidak menyelesaikan pendidikannya adalah orang yg gagal.

Pilihan atas setiap kejadian dan keputusan selalu punya alasan tersendiri dan pasti sudah melalui pemikiran panjang dan proses pengambilan keputusan yg relevan untuk berujung pada kebahagiaan.

Cara tersederhana untuk meredakan masalah mereka adalah buat mereka tersenyum atau lontarkan kata-kata penyemangat yg menyengat. Membahagiakan orang lain pasti juga akan membuatmu bahagia.

Merasa bahagia adalah proses paling sederhana untuk benar-benar bahagia. Kalo perlu paksa. Jangan terlalu terlena dalam kemanjaan perasaan sedihmu. Pites kuat-kuat rasa sedih itu biar jadi butiran debu.
Ngomong mah gampang, makanya ayok lakukan..

Jangan lupa bahagia.😊

Jodoh yang Tak Berjodoh

Jodoh itu seperti kepingan puzzle, dia melengkapi setiap sisi. Jodoh itu bukan orang yg paling sempurna, melainkan dia yg bisa menutupi dan memaklumi setiap kekurangan kita. Karena kita tumbuh sebagai manusia biasa, bukan sebagai malaikat tanpa cela. Dari tiap cela itu kita bisa membuatnya sebagai ladang ibadah, dan kelebihannya sebagai anugerah.

Dari jodoh itu pulalah kita belajar jatuh cinta berkali-kali pada orang yg sama. Dia mungkin pernah membuatmu hilang akal dan marah, ataupun kecewa dan terluka, tapi saat melihatnya tertidur lelap dalam lelah, kau akan mengerti betapa berharganya wajah yg kau cintai bertahun-tahun itu.

Mungkin setelah pernikahan yg panjang dan lama, atau masalah yg datang bertubi-tubi, ada rasa ingin pergi. Entah karena bosan stag di tempat itu, atau karena lelah bersama, banyak sekali alasan yg tidak bisa dijabarkan satu persatu. Bukankah itu manusiawi? Karena tiap manusia punya kecenderungan untuk ingin selalu bahagia.

Banyak faktor mengapa pernikahan bisa kandas di tengah jalan. Ada yg bilang itu ujian, ada yg bilang emang sudah begitu jalannya. Tapi bagi sebagian orang, saat kita sudah memilih dia sebagai jodoh kita, baik buruknya, kurang lebih nya, kita wajib terima apa adanya. Itu sudah pilihan kita, kita harus bertanggung jawab penuh untuk itu. Karena saat kita memilih, tentu tak ada keinginan untuk berpisah. Tidak ada orang yg sudah menikah menyengajakan untuk mengakhiri yang sudah dibangun bertahun-tahun hanya untuk hancur begitu saja.

Saat masalah datang terlalu bertubi-tubi, tiap orang punya batas. Batas dimana dirinya bisa bertahan atas semua hal. Ada sebuah artikel tentang psikologi pernikahan, bahwa adalah hal yg klise kalau kita berusaha bertahan demi kebahagiaan salah satu pihak. Bertahan karena anak itu penting, karena anaklah yg paling dirugikan jika pernikahan benar-benar kandas, padahal mereka samasekali tidak tahu menahu, dan merekapun tidak meminta untuk lahir dalam keluarga yg akhirnya akan berpisah.

Untuk itulah, saat pernikahan benar-benar di ujung tanduk, pasangan yg akan berpisah harus bisa bekerja sama dengan baik dan benar secara kondusif untuk selalu menciptakan suasana yg membuat anak tidak merasa terabaikan. Dan itu butuh konsistensi. Meski bentuk konsistensi itu tak melulu harus dengan cara hidup bersama.

Tulisan ini universal, tidak tertuju pada siapapun.
Ini adalah salah satu bentuk diskusi, silakan jika merasa ada yg tidak cocok dan ingin menambahi..
Sebenarnya masih banyak poin-poin lain, tapi ga sempet, ini aja tulisannya acak...

*tulisan buru-buru, dibuat di sela ikomah dan adzan ashar