Hidup itu seperti masuk ke dalam sebuah labirin batu
Semua jalan yg dilalui masih penuh misteri, dingin, gelap dan berdebu
Kita belum tau, sebelum mencoba setiap proses jalan itu
Jalan yg kita ambil bisa saja buntu
Pun bisa penuh kerikil, terjal, dan berliku
Kita tak tau ujungnya, tak kan pernah tau..
Tapi setiap pilihan selalu ada resiko.
Konsekuensi.
Tanggung jawab.
Alasan atas setiap kejadian.
Sebab-akibat.
Konsep berpikir.
Aksi-reaksi.
Intinya alasan atas setiap kejadian selalu berdasarkan metode sebab-akibat dari aksi-reaksi manusia, yg mana menghasilkan konsep berpikir untuk membuat pilihan. Dan dari pilihan itu menghadirkan konsekuensi untuk selalu dipertanggungjawabkan di kemudian hari.
Mungkin ego dalam lelah selalu berteriak tanpa henti
Mungkin jarak selalu memberi pola pikir yg tak abadi
Tapi ada 1 hal yg selalu berusaha ku yakini
bahwa hati selalu memanggil nama-Mu dalam setiap sujud penuh arti
Allah...Allah...Allah...
Jawaban atas setiap kejadian selalu ada pada manusianya sendiri. Bagaimana menyikapi dan meyakini serta mengikhlaskan setiap apa yg terjadi.
Ikhlas dalam hati.
Tak peduli sebesar apapun kejadian di depan mata layu ini, tak ada artinya saat dihadapkan pada keMaha-Besaran Allah yg hakiki.
Masalah yg kau pikir besar, bukankah lebih besar Allah? Kegelisahan yg membuatmu paling gusar, bukankah lebih besar Allah?
Kerumitan pola pikir yg membuatmu menangis getir, bukankah lebih besar Allah?
Yakinlah.
Setiap proses adalah langkah Allah untuk selalu membaikkan hamba-Nya.
Percayalah.
Setiap sakit yg dirasa adalah sebagian dari penggugur dosa-dosa.
Allah... Allah... Allah...
Maka bertahanlah pada sebenar-benarnya pasrah.
Meski jalan tak selalu mudah, karena perang paling resah adalah melawan diri yg selalu gundah.
Tawakkal.
Menyerahkan sepenuh-penuhnya hati kepada pemiliknya yg paling inti.
Tak peduli apapun yg terjadi,
yakin bahwa semua milik dan bukan milik akan kembali,
tak akan selamanya berada di sisi.
Kita hanya bisa selalu berusaha mengupayakan yg terbaik. Biar Allah yg mengatur hasil akhir yg pasti baik.
Allah Allah Allah.
Bolehkah aku selalu meminta maaf dari-Mu?
#Faa
Laviva's Room
Ini adalah apa yg kupikirkan...
Kamis, 19 September 2019
Selasa, 13 Agustus 2019
Setan dalam Kepalaku
Tuhan, bolehkah ku bunuh setan di dalam kepalaku?
Dia berdiam lama tak mau beranjak dari peraduanku..
Tuhan, apakah setan-setan itu memang merajai setiap kepala manusia?
Ataukah hanya berenang bebas dalam kepalaku?
Tuhan, maafkan aku..
Kadangkala setan-setan itu ku temani dalam seringai jahat
Kadangkala setan-setan itu ku kubur kuat-kuat
Kadangkala setan-setan itu ku ajak bermain meski penat
Tuhan,
Aku berada di antara dua sisi mata uang
Sisi mana yg harus kurelakan?
Dia berdiam lama tak mau beranjak dari peraduanku..
Tuhan, apakah setan-setan itu memang merajai setiap kepala manusia?
Ataukah hanya berenang bebas dalam kepalaku?
Tuhan, maafkan aku..
Kadangkala setan-setan itu ku temani dalam seringai jahat
Kadangkala setan-setan itu ku kubur kuat-kuat
Kadangkala setan-setan itu ku ajak bermain meski penat
Tuhan,
Aku berada di antara dua sisi mata uang
Sisi mana yg harus kurelakan?
Minggu, 11 Agustus 2019
Blog Lama
Hanya berisi pengumuman bahwa :
Silakan berkunjung ke blog lamaku
http://zierlich.blogspot.com/?m=0
Berisi kegalauan dan pikiran ga jelas saat masih berusia belasan tahun, tulisannya masih alay, gaya berbahasanya masih egois, dan... Entahlah.. 😁
Saat membaca ulang semua saat ini aja bikin malu sendiri, tapi tolong jangan di bully ya, aslinya aku tuh suka sakit hatian😆😆..kritik dan saran sangat diperlukan..terima kasih 😊
Silakan berkunjung ke blog lamaku
http://zierlich.blogspot.com/?m=0
Berisi kegalauan dan pikiran ga jelas saat masih berusia belasan tahun, tulisannya masih alay, gaya berbahasanya masih egois, dan... Entahlah.. 😁
Saat membaca ulang semua saat ini aja bikin malu sendiri, tapi tolong jangan di bully ya, aslinya aku tuh suka sakit hatian😆😆..kritik dan saran sangat diperlukan..terima kasih 😊
Sabtu, 10 Agustus 2019
Hukum Fisika dalam Psikologi Manusia
Satu hal yang ku percaya di dunia ini, bahwa hukum fisika berupa gaya aksi-reaksi selalu berlaku. Itu adalah hukum alam. Bahwa setiap kita menebarkan hal positif, maka alam akan memberikan kita hal positif lebih dari yg kita bayangkan.
Begitu pula sebaliknya, saat kita dalam keadaan selalu memberikan hal negatif, maka kita pun akan menerima bentuk-bentuk negatif lebih dari yang kita inginkan.
Saat merasa ada yg berbuat jahat pada kita, entah dalam bentuk verbal atau non verbal, atau bentuk-bentuk lain di luar perkiraan, ingin rasanya kita melakukan hal-hal sadis tak terdefinisi. Mulai dari pengen ngunyah orang, ngelempar pake truk tronton, ngelitikin sampe bahagia. Tentu saja itu manusiawi. Siapa sih yg bisa tenang-tenang saja saat merasa dirinya tersakiti? Kucing aja balas nyakar saat ngerasa dirinya tidak aman.
Tapi saat keinginan membalas itu ada, selalu ada suara hati nurani yg menghalangi.
Hei kau, jika kau membalas dengan cara tidak elegan seperti itu, apa bedanya kau dengan dia? Bukankah akan nampak sama?
Come on girls, you can do better than this!
Angkat kepalamu dengan anggun, lakukan dengan cara yg baik!
Kalo pepatah englishnya, An eye for an eye. Mata untuk mata. Intinya mode lu senggol kita bacok.
Jangan lah ya. Ga keren kayaknya. Meski setan-setan di kepala banyak banget ngarahkan ke sini.
Kejahatan ga melulu harus dibalas dengan kejahatan. Baikin aja. Bikin dia malu uda jahatin kita. Dia lempar batu, kita kasi dia berlian. Dia ngado pisau, kita ngado bunga. Kalo muka dia tebel ga tau malu, pasti setting nya tetep jahatin kita. Banyak sih, populasi tipe-tipe ga tau malu kayak begini.
Kalo keadaan tetap ga memungkinkan sementara kita uda berusaha yg terbaik, saatnya say good bye. Biar Allah yg ngatur. Jangan buang-buang waktu dan tenaga kita yg berharga itu.
Bismillah, karena Allah lebih tau apa yg terbaik untuk kita.
Tetap semangat, jangan lupa berbahagia😊
*nyoba nulis gaya berbeda di sela mata berkekuatan 5 watt, agak sarkastik 😁
Begitu pula sebaliknya, saat kita dalam keadaan selalu memberikan hal negatif, maka kita pun akan menerima bentuk-bentuk negatif lebih dari yang kita inginkan.
Saat merasa ada yg berbuat jahat pada kita, entah dalam bentuk verbal atau non verbal, atau bentuk-bentuk lain di luar perkiraan, ingin rasanya kita melakukan hal-hal sadis tak terdefinisi. Mulai dari pengen ngunyah orang, ngelempar pake truk tronton, ngelitikin sampe bahagia. Tentu saja itu manusiawi. Siapa sih yg bisa tenang-tenang saja saat merasa dirinya tersakiti? Kucing aja balas nyakar saat ngerasa dirinya tidak aman.
Tapi saat keinginan membalas itu ada, selalu ada suara hati nurani yg menghalangi.
Hei kau, jika kau membalas dengan cara tidak elegan seperti itu, apa bedanya kau dengan dia? Bukankah akan nampak sama?
Come on girls, you can do better than this!
Angkat kepalamu dengan anggun, lakukan dengan cara yg baik!
Kalo pepatah englishnya, An eye for an eye. Mata untuk mata. Intinya mode lu senggol kita bacok.
Jangan lah ya. Ga keren kayaknya. Meski setan-setan di kepala banyak banget ngarahkan ke sini.
Kejahatan ga melulu harus dibalas dengan kejahatan. Baikin aja. Bikin dia malu uda jahatin kita. Dia lempar batu, kita kasi dia berlian. Dia ngado pisau, kita ngado bunga. Kalo muka dia tebel ga tau malu, pasti setting nya tetep jahatin kita. Banyak sih, populasi tipe-tipe ga tau malu kayak begini.
Kalo keadaan tetap ga memungkinkan sementara kita uda berusaha yg terbaik, saatnya say good bye. Biar Allah yg ngatur. Jangan buang-buang waktu dan tenaga kita yg berharga itu.
Bismillah, karena Allah lebih tau apa yg terbaik untuk kita.
Tetap semangat, jangan lupa berbahagia😊
*nyoba nulis gaya berbeda di sela mata berkekuatan 5 watt, agak sarkastik 😁
Apa itu Sikap Pengertian?
Ada hal yg bernama pengertian. Dipakai saat kita berusaha memahami keadaan orang lain. Berusaha mengerti, menyelami, berpikir dengan kacamata berbeda. Pengertian itu bersifat seperti zat asam, membuat luluh lebur segala hal yg ada di hadapannya.
Pengertian itu di dapat saat kita bisa melebarkan hati, meluaskan pandangan, menyempitkan segala macam keakuan.
Pengertian itu ga bisa muncul begitu saja. Apalagi jika memori di kepala hanya berpikir tentang kata : aku, diriku, hatiku, kebutuhanku, perasaanku, kepalaku, tanganku, kakiku, sandalku..dan segala hal tentang ku dan ku yg lainnya.
Bahasa kerennya egois.
Emang ga boleh ya kita egois?
Boleh lah, egois itu perlu agar kita tidak terlalu terlihat bodoh dan tetap bahagia.
Tapi egois yg keterlaluan akan menyiksa orang lain di sekitar kita.
Egois yg menyiksa itu bagaimana?
Intinya sih begini, tidak peduli apapun yg orang lain katakan atau apapun keadaannya yg penting bahagiakan aja aku. Yg penting nyamanin aja aku. Yg penting aku.. Aku.. Aku. Pokok aku aja deh.
Rasanya seperti ada orang yg ninggalin pas kita lagi sayang-sayangnya. Itu egois pake banget kan? Rasanya pengen nimpuk pake traktor aspal. Uda ngasi harapan, ngasi kode untuk selalu bahagia, eh kita nya aja yg kebaperan. Dia nya ngilang, kita bengong kek boneka jailangkung.
Ummm, contoh itu relevan ga siyh? Entahlah 😆
Disponsori oleh embun pagi dan segelas susu hangat. Teman yg manis di sela pikiran pahit.
Selamat bersemangat pagi!
Pengertian itu di dapat saat kita bisa melebarkan hati, meluaskan pandangan, menyempitkan segala macam keakuan.
Pengertian itu ga bisa muncul begitu saja. Apalagi jika memori di kepala hanya berpikir tentang kata : aku, diriku, hatiku, kebutuhanku, perasaanku, kepalaku, tanganku, kakiku, sandalku..dan segala hal tentang ku dan ku yg lainnya.
Bahasa kerennya egois.
Emang ga boleh ya kita egois?
Boleh lah, egois itu perlu agar kita tidak terlalu terlihat bodoh dan tetap bahagia.
Tapi egois yg keterlaluan akan menyiksa orang lain di sekitar kita.
Egois yg menyiksa itu bagaimana?
Intinya sih begini, tidak peduli apapun yg orang lain katakan atau apapun keadaannya yg penting bahagiakan aja aku. Yg penting nyamanin aja aku. Yg penting aku.. Aku.. Aku. Pokok aku aja deh.
Rasanya seperti ada orang yg ninggalin pas kita lagi sayang-sayangnya. Itu egois pake banget kan? Rasanya pengen nimpuk pake traktor aspal. Uda ngasi harapan, ngasi kode untuk selalu bahagia, eh kita nya aja yg kebaperan. Dia nya ngilang, kita bengong kek boneka jailangkung.
Ummm, contoh itu relevan ga siyh? Entahlah 😆
Disponsori oleh embun pagi dan segelas susu hangat. Teman yg manis di sela pikiran pahit.
Selamat bersemangat pagi!
Kekuatan Pikiran
Apa yg kita rasakan tergantung dari apa yg kita pikirkan. Karena kekuatan pikiran begitu hebatnya menguasai alam bawah sadar kita.
Kau akan baik-baik saja jika kau memang ingin dirimu berpikir seperti itu. Kau akan kalut jika membiarkan pikiran kalut menguasai dan menjatuhkanmu.
Kau akan bahagia jika membiarkan pikiranmu secara sederhana mensyukuri hal-hal paling sederhana sekalipun di sekelilingmu.
Manusia pada dasarnya memang punya sifat asli serakah. Dia bahagia di waktu ini, namun di keadaan dan situasi yg sama di lain waktu yg akan datang dia akan berubah karena menginginkan hal lain yg lebih.
Itu berproses dan keserakahan manusia berkembang dari waktu ke waktu. Namun pada dasarnya kita semua tau mana yg baik dan yg buruk itu dengan melihat ke dalam nurani masing-masing. Berbicaralah lebih dalam dengan hatimu. Rasakan semua, korelasikan hati, pikiran dan nurani terdalam.
Hidup dengan bahagia itu tidak rumit sebenarnya. Tidak perlu banyak aturan dan syarat ketentuan berlaku. Kita hanya perlu mensyukuri apapun yg terjadi dalam hidup. Baik dan buruk. Hitam dan putih. Terima dengan lapang dada dan melalui dengan ikhlas dan senyuman. Tolak ukur yg pernah kita tekankan di waktu pikiran tersetting perfeksionis pun akan blur dengan rasa syukur.
(Tapi tolak ukur juga perlu, agar kita terus punya ambisi untuk maju.)
Semua yg berlebihan pasti akan berakhir tidak baik. Misal saja saat makan buah pisang. Pisang itu baik; tinggi kalium, serat, mineral, dan nutrisi baik lainnya. Tapi saat dikonsumsi berlebihan tentu berakibat pada gangguan pencernaan. Sama hal nya saat mencintai seseorang. Mencintai itu baik, menyayangi itu indah. Akan tetapi jika dilakukan berlebihan pun akibatnya jadi tidak baik, cenderung mengikat, possessif, terlalu banyak aturan dan berakibat pada bermasalahnya sisi mental dan psikologis.
Atau saat terlalu benci pada seseorang, bisa berefek pada rasa galau dan bikin status yg berisi mantra gimana cara nyantet orang dengan damai.
Contoh lain bisa juga pada sisi rupawan seseorang. Karena saya wanita, saya ibaratkan yg ganteng dan yg manis. Saya lebih suka yg manis, karena yg ganteng itu membosankan.
Dua contoh yg terakhir bisa di skip ya, itu ga relevan dengan konteks di atas. 😆😆😆
Sekian dan selamat bersemangat.
Kau akan baik-baik saja jika kau memang ingin dirimu berpikir seperti itu. Kau akan kalut jika membiarkan pikiran kalut menguasai dan menjatuhkanmu.
Kau akan bahagia jika membiarkan pikiranmu secara sederhana mensyukuri hal-hal paling sederhana sekalipun di sekelilingmu.
Manusia pada dasarnya memang punya sifat asli serakah. Dia bahagia di waktu ini, namun di keadaan dan situasi yg sama di lain waktu yg akan datang dia akan berubah karena menginginkan hal lain yg lebih.
Itu berproses dan keserakahan manusia berkembang dari waktu ke waktu. Namun pada dasarnya kita semua tau mana yg baik dan yg buruk itu dengan melihat ke dalam nurani masing-masing. Berbicaralah lebih dalam dengan hatimu. Rasakan semua, korelasikan hati, pikiran dan nurani terdalam.
Hidup dengan bahagia itu tidak rumit sebenarnya. Tidak perlu banyak aturan dan syarat ketentuan berlaku. Kita hanya perlu mensyukuri apapun yg terjadi dalam hidup. Baik dan buruk. Hitam dan putih. Terima dengan lapang dada dan melalui dengan ikhlas dan senyuman. Tolak ukur yg pernah kita tekankan di waktu pikiran tersetting perfeksionis pun akan blur dengan rasa syukur.
(Tapi tolak ukur juga perlu, agar kita terus punya ambisi untuk maju.)
Semua yg berlebihan pasti akan berakhir tidak baik. Misal saja saat makan buah pisang. Pisang itu baik; tinggi kalium, serat, mineral, dan nutrisi baik lainnya. Tapi saat dikonsumsi berlebihan tentu berakibat pada gangguan pencernaan. Sama hal nya saat mencintai seseorang. Mencintai itu baik, menyayangi itu indah. Akan tetapi jika dilakukan berlebihan pun akibatnya jadi tidak baik, cenderung mengikat, possessif, terlalu banyak aturan dan berakibat pada bermasalahnya sisi mental dan psikologis.
Atau saat terlalu benci pada seseorang, bisa berefek pada rasa galau dan bikin status yg berisi mantra gimana cara nyantet orang dengan damai.
Contoh lain bisa juga pada sisi rupawan seseorang. Karena saya wanita, saya ibaratkan yg ganteng dan yg manis. Saya lebih suka yg manis, karena yg ganteng itu membosankan.
Dua contoh yg terakhir bisa di skip ya, itu ga relevan dengan konteks di atas. 😆😆😆
Sekian dan selamat bersemangat.
Surah Favorit, Surah Ar Rahman ❤
Surat Ar-Rahman
Ar Rahman
Ar Rahmaan
( Yang Maha Pemurah )
Surat Ke 55 : 78 Ayat
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Bismillahirrahmaanirrahiim(i)
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
ٱلرَّحۡمَٰنُ
Ar-rahmaan(u)
1. "(Tuhan) Yang Maha Pemurah,"
عَلَّمَ ٱلۡقُرۡءَانَ
'Allamal qur-aan(a)
2. "Yang telah mengajarkan al Quran."
خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ
Khalaqal insaan(a)
3. "Dia menciptakan manusia."
عَلَّمَهُ ٱلۡبَيَانَ
'Allamahul bayaan(a)
4. "Mengajarnya pandai berbicara."
ٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ بِحُسۡبَانٍ
Asy-syamsu wal qamaru bihusbaan(in)
5. "Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan."
وَٱلنَّجۡمُ وَٱلشَّجَرُ يَسۡجُدَانِ
Wan najmu wasy-syajaru yasjudaan(i)
6. "Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada Nya."
وَٱلسَّمَآءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ ٱلۡمِيزَانَ
Wassamaa-a rafa'ahaa wa wadha'al miizaan(a)
7. "Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan)."
أَلَّا تَطۡغَوۡاْ فِي ٱلۡمِيزَانِ
Allaa tathghau fiil miizaan(i)
8. "Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu."
وَأَقِيمُواْ ٱلۡوَزۡنَ بِٱلۡقِسۡطِ وَلَا تُخۡسِرُواْ ٱلۡمِيزَانَ
Wa aqiimuul wazna bil qisthi wa laa tukhsiruul miizaan(a)
9. "Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu."
وَٱلۡأَرۡضَ وَضَعَهَا لِلۡأَنَامِ
Wal ardha wa dha'ahaa lil-anaam(i)
10. "Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya)."
فِيهَا فَٰكِهَةٌ وَٱلنَّخۡلُ ذَاتُ ٱلۡأَكۡمَامِ
Fiihaa faakihatun wannakhlu dzaatul akmaam(i)
11. "Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang."
وَٱلۡحَبُّ ذُو ٱلۡعَصۡفِ وَٱلرَّيۡحَانُ
Wal habbu dzuul 'ashfi warraihaan(u)
12. "Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
13. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِن صَلۡصَٰلٖ كَٱلۡفَخَّارِ
Khalaqal insaana min shalshaalin kal fakh-khaar(i)
14. "Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar,"
وَخَلَقَ ٱلۡجَآنَّ مِن مَّارِجٍ مِّن نَّارٍ
Wa khalaqal jaanna min maarijim min naar(in)
15. "dan Dia menciptakan jin dari nyala api."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
16. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
رَبُّ ٱلۡمَشۡرِقَيۡنِ وَرَبُّ ٱلۡمَغۡرِبَيۡنِ
Rabbul masyriqaini wa rabbul maghribain(i)
17. "Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya"
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fab-iayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
18. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
مَرَجَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ يَلۡتَقِيَانِ
Marajal bahraini yaltaqiyaan(i)
19. "Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu,"
بَيۡنَهُمَا بَرۡزَخٌ لَّا يَبۡغِيَانِ
Bainahumaa barzakhul laa yabghiyaan(i)
20. "antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing"
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
21. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
يَخۡرُجُ مِنۡهُمَا ٱللُّؤۡلُؤُ وَٱلۡمَرۡجَانُ
Yakhruju minhumaallu'lu'u wal marjaan(u)
22. "Dari keduanya keluar mutiara dan marjan."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
23. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
وَلَهُ ٱلۡجَوَارِ ٱلۡمُنشََٔاتُ فِي ٱلۡبَحۡرِ كَٱلۡأَعۡلَٰمِ
Wa lahul jawaaril munsyaaatu fiil bahri kal a'laam(i)
24. "Dan kepunyaanNya lah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
25. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
كُلُّ مَنۡ عَلَيۡهَا فَانٍ
Kullu man 'alaihaa faan(in)
26. "Semua yang ada di bumi itu akan binasa."
وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ
Wayabqaa wajhu rabbika dzuul jalaali wal-ikraam(i)
27. "Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
28. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
يَسَۡٔلُهُۥ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ كُلَّ يَوۡمٍ هُوَ فِي شَأۡنٍ
Yas-aluhuu man fiis-samaawaati wal ardhi kulla yaumin huwa fii sya'n(in)
29. "Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَان
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
30. "Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?"
سَنَفۡرُغُ لَكُمۡ أَيُّهَ ٱلثَّقَلَانِ
Sanafrughu lakum ayyuhaats-tsaqalaan(i)
31. "Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu hai manusia dan jin."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
32. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ إِنِ ٱسۡتَطَعۡتُمۡ أَن تَنفُذُواْ مِنۡ أَقۡطَارِ ٱلسَّمَٰوَٰت
وَٱلۡأَرۡضِ فَٱنفُذُواْۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلۡطَٰنٍ
Yaa ma'syaral jinni wal-insi iniistatha'tum an tanfudzuu min aqthaaris-samaawaati wal ardhi faanfudzuu laa tanfudzuuna illaa bisulthaan(in)
33. "Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
34. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
يُرۡسَلُ عَلَيۡكُمَا شُوَاظٌ مِّن نَّارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنتَصِرَانِ
Yursalu 'alaikumaa syuwaazhun min naarin wa nuhaasun falaa tantashiraan(i)
35. "Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (dari padanya)."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
36. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
فَإِذَا ٱنشَقَّتِ ٱلسَّمَآءُ فَكَانَتۡ وَرۡدَةٗ كَٱلدِّهَانِ
Fa-idzaaan-syaqqatis-samaa-u fakaanat wardatan kaddihaan(i)
37. "Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabiayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
38. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
فَيَوۡمَئِذٍ لَّا يُسَۡٔلُ عَن ذَنۢبِهِۦٓ إِنسٌ وَلَا جَآنٌّ
Fayauma-idzil laa yusalu 'an dzanbihi insun wa laa jaann(un)
39. "Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
40. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
يُعۡرَفُ ٱلۡمُجۡرِمُونَ بِسِيمَٰهُمۡ فَيُؤۡخَذُ بِٱلنَّوَٰصِي وَٱلۡأَقۡدَامِ
Yu'raful mujrimuuna bisiimaahum fayu'khadzu binnawaashii wal aqdaam(i)
41. "Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandannya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
42. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
هَٰذِهِۦ جَهَنَّمُ ٱلَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ
Haadzihii jahannamullatii yukadz-dzibu bihaal mujrimuun(a)
43. "Inilah neraka Jahannam yang didustakan oleh orang-orang berdosa."
يَطُوفُونَ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَ حَمِيمٍ ءَانٍ
Yathuufuuna bainahaa wa baina hamiimin aan(in)
44. "Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air mendidih yang memuncak panasnya."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
45. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
وَلِمَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ جَنَّتَانِ
Wa liman khaafa maqaama rabbihii jannataan(i)
46. Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga [1446]."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
47. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?,"
ذَوَاتَآ أَفۡنَانٍ
Dzawaataa afnaan(in)
48. "kedua syurga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
49. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
فِيهِمَا عَيۡنَانِ تَجۡرِيَانِ
Fiihimaa 'ainaani tajriyaan(i)
50. "Di dalam kedua syurga itu ada dua buah mata air yang mengalir"
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
51. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
فِيهِمَا مِن كُلِّ فَٰكِهَةٍ زَوۡجَانِ
Fiihimaa min kulli faakihatin zaujaan(i)
52. "Di dalam kedua syurga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
53. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
مُتَّكِِٔينَ عَلَىٰ فُرُشِۢ بَطَآئِنُهَا مِنۡ إِسۡتَبۡرَقٖۚ وَجَنَى ٱلۡجَنَّتَيۡنِ دَانٍ
Muttaki-iina 'alaa furusyin bathaa-inuhaa min istabraqin wa janal jannataini daan(in)
54. "Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. Dan buah-buahan di kedua syurga itu dapat (dipetik) dari dekat."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
55. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
فِيهِنَّ قَٰصِرَٰتُ ٱلطَّرۡفِ لَمۡ يَطۡمِثۡهُنَّ إِنسٌ قَبۡلَهُمۡ وَلَا جَآنٌّ
Fiihinna qaashiraatuth-tharfi lam yathmitshunna insun qablahum wa laa jaann(un)
56. "Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
57. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
كَأَنَّهُنَّ ٱلۡيَاقُوتُ وَٱلۡمَرۡجَانُ
Ka-annahunnal yaaquutu wal marjaan(u)
58. "Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
59. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَٰنُ
Hal jazaa-ul ihsaani ilaal ihsaan(u)
60. Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
61. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
وَمِن دُونِهِمَا جَنَّتَانِ
Wa min duunihimaa jannataan(i)
62. "Dan selain dari dua syurga itu ada dua syurga lagi"
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
63. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
مُدۡهَآمَّتَانِ
Mudhaammataan(i)
64. "Kedua syurga itu (kelihatan) hijau tua warnanya."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
65. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
فِيهِمَا عَيۡنَانِ نَضَّاخَتَانِ
Fiihimaa 'ainaani nadh-dhaakhataan(i)
66. "Di dalam kedua syurga itu ada dua buah mata air yang memancar."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
67. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
فِيهِمَا فَٰكِهَةٌ وَنَخۡلٌ وَرُمَّانٌ
Fiihimaa faakihatun wanakhlun wa rummaan(un)
68. Di dalam keduanya (ada macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
69. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
فِيهِنَّ خَيۡرَٰتٌ حِسَانٌ
Fiihinna khairaatun hisaan(un)
70. "Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang baik- baik lagi cantik-cantik."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
71. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
حُورٌ مَّقۡصُورَٰتٌ فِي ٱلۡخِيَامِ
Huurun maqshuuraatun fiil khiyaam(i)
72. "(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
73. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
لَمۡ يَطۡمِثۡهُنَّ إِنسٌ قَبۡلَهُمۡ وَلَا جَآنٌّ
Lam yathmitshunna insun qablahum wa laa jaann(un)
74. "Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
75. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
مُتَّكِِٔينَ عَلَىٰ رَفۡرَفٍ خُضۡرٍ وَعَبۡقَرِيٍّ حِسَانٍ
Muttaki-iina 'alaa rafrafin khudhrin wa 'abqariyyin hisaan(in)
76. "Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
77. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
تَبَٰرَكَ ٱسۡمُ رَبِّكَ ذِي ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ
Tabaarakaasmu rabbika dziil jalaali wal-ikraam(i)
78. "Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia."
Ar Rahman
Ar Rahmaan
( Yang Maha Pemurah )
Surat Ke 55 : 78 Ayat
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Bismillahirrahmaanirrahiim(i)
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
ٱلرَّحۡمَٰنُ
Ar-rahmaan(u)
1. "(Tuhan) Yang Maha Pemurah,"
عَلَّمَ ٱلۡقُرۡءَانَ
'Allamal qur-aan(a)
2. "Yang telah mengajarkan al Quran."
خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ
Khalaqal insaan(a)
3. "Dia menciptakan manusia."
عَلَّمَهُ ٱلۡبَيَانَ
'Allamahul bayaan(a)
4. "Mengajarnya pandai berbicara."
ٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ بِحُسۡبَانٍ
Asy-syamsu wal qamaru bihusbaan(in)
5. "Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan."
وَٱلنَّجۡمُ وَٱلشَّجَرُ يَسۡجُدَانِ
Wan najmu wasy-syajaru yasjudaan(i)
6. "Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada Nya."
وَٱلسَّمَآءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ ٱلۡمِيزَانَ
Wassamaa-a rafa'ahaa wa wadha'al miizaan(a)
7. "Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan)."
أَلَّا تَطۡغَوۡاْ فِي ٱلۡمِيزَانِ
Allaa tathghau fiil miizaan(i)
8. "Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu."
وَأَقِيمُواْ ٱلۡوَزۡنَ بِٱلۡقِسۡطِ وَلَا تُخۡسِرُواْ ٱلۡمِيزَانَ
Wa aqiimuul wazna bil qisthi wa laa tukhsiruul miizaan(a)
9. "Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu."
وَٱلۡأَرۡضَ وَضَعَهَا لِلۡأَنَامِ
Wal ardha wa dha'ahaa lil-anaam(i)
10. "Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya)."
فِيهَا فَٰكِهَةٌ وَٱلنَّخۡلُ ذَاتُ ٱلۡأَكۡمَامِ
Fiihaa faakihatun wannakhlu dzaatul akmaam(i)
11. "Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang."
وَٱلۡحَبُّ ذُو ٱلۡعَصۡفِ وَٱلرَّيۡحَانُ
Wal habbu dzuul 'ashfi warraihaan(u)
12. "Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
13. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِن صَلۡصَٰلٖ كَٱلۡفَخَّارِ
Khalaqal insaana min shalshaalin kal fakh-khaar(i)
14. "Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar,"
وَخَلَقَ ٱلۡجَآنَّ مِن مَّارِجٍ مِّن نَّارٍ
Wa khalaqal jaanna min maarijim min naar(in)
15. "dan Dia menciptakan jin dari nyala api."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
16. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
رَبُّ ٱلۡمَشۡرِقَيۡنِ وَرَبُّ ٱلۡمَغۡرِبَيۡنِ
Rabbul masyriqaini wa rabbul maghribain(i)
17. "Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya"
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fab-iayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
18. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
مَرَجَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ يَلۡتَقِيَانِ
Marajal bahraini yaltaqiyaan(i)
19. "Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu,"
بَيۡنَهُمَا بَرۡزَخٌ لَّا يَبۡغِيَانِ
Bainahumaa barzakhul laa yabghiyaan(i)
20. "antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing"
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
21. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
يَخۡرُجُ مِنۡهُمَا ٱللُّؤۡلُؤُ وَٱلۡمَرۡجَانُ
Yakhruju minhumaallu'lu'u wal marjaan(u)
22. "Dari keduanya keluar mutiara dan marjan."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
23. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
وَلَهُ ٱلۡجَوَارِ ٱلۡمُنشََٔاتُ فِي ٱلۡبَحۡرِ كَٱلۡأَعۡلَٰمِ
Wa lahul jawaaril munsyaaatu fiil bahri kal a'laam(i)
24. "Dan kepunyaanNya lah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
25. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
كُلُّ مَنۡ عَلَيۡهَا فَانٍ
Kullu man 'alaihaa faan(in)
26. "Semua yang ada di bumi itu akan binasa."
وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ
Wayabqaa wajhu rabbika dzuul jalaali wal-ikraam(i)
27. "Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
28. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
يَسَۡٔلُهُۥ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ كُلَّ يَوۡمٍ هُوَ فِي شَأۡنٍ
Yas-aluhuu man fiis-samaawaati wal ardhi kulla yaumin huwa fii sya'n(in)
29. "Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَان
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
30. "Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?"
سَنَفۡرُغُ لَكُمۡ أَيُّهَ ٱلثَّقَلَانِ
Sanafrughu lakum ayyuhaats-tsaqalaan(i)
31. "Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu hai manusia dan jin."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
32. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ إِنِ ٱسۡتَطَعۡتُمۡ أَن تَنفُذُواْ مِنۡ أَقۡطَارِ ٱلسَّمَٰوَٰت
وَٱلۡأَرۡضِ فَٱنفُذُواْۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلۡطَٰنٍ
Yaa ma'syaral jinni wal-insi iniistatha'tum an tanfudzuu min aqthaaris-samaawaati wal ardhi faanfudzuu laa tanfudzuuna illaa bisulthaan(in)
33. "Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
34. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
يُرۡسَلُ عَلَيۡكُمَا شُوَاظٌ مِّن نَّارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنتَصِرَانِ
Yursalu 'alaikumaa syuwaazhun min naarin wa nuhaasun falaa tantashiraan(i)
35. "Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (dari padanya)."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
36. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
فَإِذَا ٱنشَقَّتِ ٱلسَّمَآءُ فَكَانَتۡ وَرۡدَةٗ كَٱلدِّهَانِ
Fa-idzaaan-syaqqatis-samaa-u fakaanat wardatan kaddihaan(i)
37. "Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabiayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
38. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
فَيَوۡمَئِذٍ لَّا يُسَۡٔلُ عَن ذَنۢبِهِۦٓ إِنسٌ وَلَا جَآنٌّ
Fayauma-idzil laa yusalu 'an dzanbihi insun wa laa jaann(un)
39. "Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
40. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
يُعۡرَفُ ٱلۡمُجۡرِمُونَ بِسِيمَٰهُمۡ فَيُؤۡخَذُ بِٱلنَّوَٰصِي وَٱلۡأَقۡدَامِ
Yu'raful mujrimuuna bisiimaahum fayu'khadzu binnawaashii wal aqdaam(i)
41. "Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandannya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
42. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
هَٰذِهِۦ جَهَنَّمُ ٱلَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ
Haadzihii jahannamullatii yukadz-dzibu bihaal mujrimuun(a)
43. "Inilah neraka Jahannam yang didustakan oleh orang-orang berdosa."
يَطُوفُونَ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَ حَمِيمٍ ءَانٍ
Yathuufuuna bainahaa wa baina hamiimin aan(in)
44. "Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air mendidih yang memuncak panasnya."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
45. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
وَلِمَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ جَنَّتَانِ
Wa liman khaafa maqaama rabbihii jannataan(i)
46. Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga [1446]."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
47. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?,"
ذَوَاتَآ أَفۡنَانٍ
Dzawaataa afnaan(in)
48. "kedua syurga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
49. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
فِيهِمَا عَيۡنَانِ تَجۡرِيَانِ
Fiihimaa 'ainaani tajriyaan(i)
50. "Di dalam kedua syurga itu ada dua buah mata air yang mengalir"
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
51. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
فِيهِمَا مِن كُلِّ فَٰكِهَةٍ زَوۡجَانِ
Fiihimaa min kulli faakihatin zaujaan(i)
52. "Di dalam kedua syurga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
53. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
مُتَّكِِٔينَ عَلَىٰ فُرُشِۢ بَطَآئِنُهَا مِنۡ إِسۡتَبۡرَقٖۚ وَجَنَى ٱلۡجَنَّتَيۡنِ دَانٍ
Muttaki-iina 'alaa furusyin bathaa-inuhaa min istabraqin wa janal jannataini daan(in)
54. "Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. Dan buah-buahan di kedua syurga itu dapat (dipetik) dari dekat."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
55. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
فِيهِنَّ قَٰصِرَٰتُ ٱلطَّرۡفِ لَمۡ يَطۡمِثۡهُنَّ إِنسٌ قَبۡلَهُمۡ وَلَا جَآنٌّ
Fiihinna qaashiraatuth-tharfi lam yathmitshunna insun qablahum wa laa jaann(un)
56. "Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
57. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
كَأَنَّهُنَّ ٱلۡيَاقُوتُ وَٱلۡمَرۡجَانُ
Ka-annahunnal yaaquutu wal marjaan(u)
58. "Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
59. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَٰنُ
Hal jazaa-ul ihsaani ilaal ihsaan(u)
60. Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
61. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
وَمِن دُونِهِمَا جَنَّتَانِ
Wa min duunihimaa jannataan(i)
62. "Dan selain dari dua syurga itu ada dua syurga lagi"
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
63. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
مُدۡهَآمَّتَانِ
Mudhaammataan(i)
64. "Kedua syurga itu (kelihatan) hijau tua warnanya."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
65. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
فِيهِمَا عَيۡنَانِ نَضَّاخَتَانِ
Fiihimaa 'ainaani nadh-dhaakhataan(i)
66. "Di dalam kedua syurga itu ada dua buah mata air yang memancar."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
67. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
فِيهِمَا فَٰكِهَةٌ وَنَخۡلٌ وَرُمَّانٌ
Fiihimaa faakihatun wanakhlun wa rummaan(un)
68. Di dalam keduanya (ada macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
69. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
فِيهِنَّ خَيۡرَٰتٌ حِسَانٌ
Fiihinna khairaatun hisaan(un)
70. "Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang baik- baik lagi cantik-cantik."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
71. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
حُورٌ مَّقۡصُورَٰتٌ فِي ٱلۡخِيَامِ
Huurun maqshuuraatun fiil khiyaam(i)
72. "(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
73. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
لَمۡ يَطۡمِثۡهُنَّ إِنسٌ قَبۡلَهُمۡ وَلَا جَآنٌّ
Lam yathmitshunna insun qablahum wa laa jaann(un)
74. "Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
75. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
مُتَّكِِٔينَ عَلَىٰ رَفۡرَفٍ خُضۡرٍ وَعَبۡقَرِيٍّ حِسَانٍ
Muttaki-iina 'alaa rafrafin khudhrin wa 'abqariyyin hisaan(in)
76. "Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah."
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)
77. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
تَبَٰرَكَ ٱسۡمُ رَبِّكَ ذِي ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ
Tabaarakaasmu rabbika dziil jalaali wal-ikraam(i)
78. "Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia."
Langganan:
Komentar (Atom)







